A.
EVALUASI PELAKSANAAN KURIKULUM 2013
KUMPULAN MATERI KULIAH
Rabu, 08 November 2017
Rabu, 01 November 2017
IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DI SD
IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013
DI SD NEGERI 95/VII
RANGKILING SIMPANG II
Ini sangat penting untuk diketahui oleh semua
guru terutama bagi guru yang sekolahnya melaksanakan Kurikulum 2013.karena saya
baru menjalankan dan melaksanakan menjadi seorang tenaga pendidik selam 2 tahun
dan ini menjadi tahun pertama di terapkan kurikulum 2013 untuk kelas II dan
kelas V Di SD NEGERI 95/VII RANGKILING
SIMPANG II,di mana tahun sebelumnya sudah menerapkan dan menjalankan
kurikulum 2013 untuk kelas 1 dan IV.
A.
Implementasi
kurikulum 2013
Perlu di lakukan sosialisasi terhadap guru-guru
dan wali murid,selain itu juga guru-guru dan kepala sekolah juga mengikuti
diklat yang di adakan pemerintah untuk mensukseskan implementasi kurikulum
2013.dan diklat ini tidak hanya di ikuti oleh kepala sekolah dan guru
kelas,melainkan juga di ikuti oleh guru mata pelajaran seperti guru agama dan
guru olahraga. ada perbedaan cara pandang atau belum memahami secara utuh
konsep kurikulum berbasis kompetensi yang menjadi dasar Kurikulum 2013. Secara
falsafati, pendidikan adalah proses panjang dan berkelanjutan untuk
mentransformasikan peserta didik menjadi manusia yang sesuai dengan tujuan
penciptaannya, yaitu bermanfaat bagi dirinya, bagi sesama, bagi alam semesta,
beserta segenap isi dan peradabannya.
Dalam UU Sisdiknas, menjadi bermanfaat itu
dirumuskan dalam indikator strategis, seperti beriman-bertakwa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab. Dalam memenuhi kebutuhan kompetensi abad
ke-21, UU Sisdiknas juga memberikan arahan yang jelas bahwa tujuan pendidikan
harus dicapai salah satunya melalui penerapan kurikulum berbasis kompetensi.
Kompetensi lulusan program pendidikan harus mencakup tiga kompetensi, yakni
sikap, pengetahuan, dan keterampilan, sehingga yang dihasilkan adalah manusia
seutuhnya. Dengan demikian, tujuan pendidikan nasional perlu dijabarkan menjadi
himpunan kompetensi dalam tiga ranah kompetensi (sikap, pengetahuan, dan
keterampilan). Di dalamnya terdapat sejumlah kompetensi yang harus dimiliki
seseorang agar dapat menjadi orang beriman dan bertakwa, berilmu, dan
seterusnya.
Mengingat pendidikan idealnya proses sepanjang
hayat, maka lulusan atau keluaran dari suatu proses pendidikan tertentu harus
dipastikan memiliki kompetensi yang diperlukan untuk melanjutkan pendidikannya
secara mandiri sehingga esensi tujuan pendidikan tercapai.
B.
Factor
pendukung implementasi kurikulum 2013
meliputi buku pedoman yang diberikan ketika
sosialisasi kurikulum 2013,arahan dari pengawas kec pasar kota jambi.fasilitas
sekolah terutama , dengan adanya factor pendukung tersebut guru-guru
memanfaatkan dengan cara buku pedoman untuk menyusun berbagai adminitrasi
kurikulum,memanfaatkan fasilitas sekolah semaksimal mungkin
untuk menunjang pembelajaran,mengikuti setiap sosialisasi atau diklat
yang di adakan oleh pihak sekolah yang bersangkutan .
Orang tua peserta didik yang sangat berperan
aktif salah satu pendukung dalam implementasi kurikulum 2013.karena orang tua
peserta didik memberikan dukungan dengan mengawasi danmembantu anak belajar di
rumah serta orang tua mendukung adanya kurikulum 2013 karena dalam hal ini bisa
memudahkan anak dalam proses belajar.
C.
Ada
bebrapa factor atau problematika yang terjadi Di SD NEGERI 95/VII RANGKILING
SIMPANG II dalam menjalankan proses pembeljaran dengan menggunakan kurikulum
2013 ini :
- Terlalu banyak adminitrasi yang harus di selesaikan sehingga proses pembelajaran menjadi tidak efektif.
- Masih adanya peserta didik yang belum bisa membaca ,membedakan huruf dan angka untuk kelas 1 .
- Materi pembelajaran terlalu banyak dan harus di selesaikan dengan target satu tema satu bulan.
- Keterlambatan pendistribusian buku siswa dan buku guru sehingga menghambat proses pembelajaran .
- Dan ada sebagian guru yang tidak mau menjalankan pembelajaran k13 dan masih tetap menerapakan pembelajaran KTSP dengan alasan,belum memahami proses pembelajaran k13,padahal sudah mengikuti diklat k13 atau sosialisasi yang di adakan oleh pihak LPMP.
D.
Evaluasi
dalam implementasi kurikulum 2013
Di perlukan oleh pihak sekolah supaya pemerintah
mengetahui kendala yang di alami oleh guru dan kepala seolah dalam melaksanakan
kurikulum,karena dari masing-masing sekolah kendala yang di hadapi pasti
berbeda-beda sehingga implementasi kurikulum 2013 ini pihak LPMP mendatangi
sekolah unutk melakukan monitoring secara langsung terhadap terhadap
implementasikurikulum 2013 ini .
Kamis, 26 Oktober 2017
Komponen Pengembangan Kurikulum
Anatomi Kurikulum diibaratkan seperti anatomi tubuh
terdiri dari komponen-kompone yang berkesuaian dan berkaitan. Kompenen
kurikulum yaitu tujuan, isi, proses pembelajaran, dan evaluasi
(Sukmadinata, 2009). Komponen isi sesuai dengan tujuan, proses pembelajaran
sesuai dengan isi dan tujuan, serta evaluasi sesuai dengan proses, isi dan
tujuan kurikulum.
Pada Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, pasal 35 ayat 1 menjelaksan bahwa keempat komponen
tersebut menjadi 4 dari 8 Standar nasional pendidikan yaitu standar kompetensi
lulusan, standar isi, standar proses, dan standar penilaian berdasarkan
Peraturan .
Keempat standar tersebut menjadi aspek utama pengembangan
dalam proses perubahan kurikulum nasional. Seperti Perbedaan kurikulum 2006
dengan kurikulum 2013 terletak pada pengembangan keempat komponen tersebut.
Sehingga PP 13 Tahun 2015 menjelaskan bahwa Kurikulum adalah seperangkat
rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara
yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu. Artinya Kurikulum sebagai dokumen
perencanaan berisi tentang tujuan, isi materi, strategi dan evaluasi yang
dirancang untuk mengumpulkan informasi tentang pencapaian tujuan serta
implementasi dari dokumen yang dirancang dalam bentuk nyata. Oleh karena itu,
perlu memahami keempat komponen kurikulum dengan baik agar dapat mengembangkan
kurikulum dengan baik.
1. Tujuan
Tujuan merupakan komponen penting dalam pengembangan
kurikulum karena sebagai arah semua kegiatan pengajaran dan mewarnai
komponen-komponen kurikulum lainnya. Sehingga dalam merumuskan tujuan kurikulum
berdasarkan dua hal yaitu perkembangan masyarakat dan falsafah sebuah
negara (Sukmadinata, 2009).
Tujuan Kurikulum yang baik memiliki kesesuaian dengan
perkembangan masyarakat, baik tuntutan, kebutuhan, dan kondisi masyarakat,
karena salah satu tujuan pendidikan adalah mempersiapkan peserta didik untuk
hidup ditengah-tengah masyarakat. Sehingga sekolah diibaratkan sebagai miniatur
masyarakat atau masyarakat dalam bentuk mini (Tafsir, 2010).
Tujuan kurikulum yang baik memiliki kesesuaian dengan
falsafah negara yaitu pemikiran-pemikiran dan nilai-nilai yang berlaku di
sebuah negara. Tujuan kurikulum Nasional disusun sesuai dengan falsafah negara
Indonesia
Tujuan terbagi menjadi beberapa kategori seperti tujuan
khusus dan umum. Tujuan berkaitan dengan waktu terbagi menjadi tujuan jangka
panjang, jangka menengah dan jangka panjang. Tujuan berkaitan jenjang
pendidikan terbagi menjadi tujuan pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan
pendidikan tinggi. Tujuan yang berhubungan langsung dalam proses pendidikan
meliputi tujuan domain kognitif, domain afektif, dan domain psikomotorik.
Tujuan pendidikan berdasarkan tujuan tertinggi sampai tujuan terendah terbagi
sebagai berikut:
A. Tujuan Pendidikan Nasional
Tujuan ini merupakan tujuan pendidikan yang paling tinggi
dalam herarki tujuan-tujuan pendidikan yang ada, bersifat ideal dan umum.
Undang-Undang no. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menjelaskan
tujuan Pendidikan Nasional adalah “menjadikan manusia Indonesia yang beriman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab”.
Tujuan tersebut dilengkapi oleh Peraturan Pemerintah no.
19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, tujuannya adalah membentuk
peserta didik menjadi manusia seutuhnya, yang memiliki ilmu pengetahuan dan kecakapan
serta beriman dan mempunya tanggung jawab sebagai warga Negara.
Tujuan Pendidikan Nasional yang tertulis di UU dan PP
memiliki kesamaan dengan tujuan pendidikan Islam yang tertulis pada Peraturan
Menteri Agama no. 2 tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan
Standar Isi Pendidikan Keagamaan dan Bahasa Arab, yaitu menciptakan manusia
yang beriman dan bertakwa sebagai pribadi, dan memiliki rasa tanggung jawab
sebagai manusia sosial.
B. Tujuan Institusional
Tujuan Institusional atau tujuan tingkat satuan pendidikan
adalah tindak lanjut dari tujuan nasional. artinya tujuan tingkat satuan
pendidikan mesti menggambarkan kelanjutan dan hubungan yang kuat dengan tujuan
pendidikan nasional. Tujuan tersebut dikenal dengan tujuan pendidikan dasar,
tujuan pendidikan menengah dan tujuan pendidikan tinggi.
C. Tujuan Kurikuler
Tujuan kurikuler
dikenal dengan standar kompetensi adalah tindak lanjut dari tujuan tingkat
satuan pendidikan dalam melaksanakan kegiatan pendidikan dari satuan
pendidikan. Berdasarkan peraturan menteri pendidikan nasional, tujuan kurikuler
tersusun menjadi standar kompetensi kelompok mata pelajaran, standar kompetensi
mata pelajaran.
D.
Tujuan Instruksional
Tujuan instruksional atau standar kompetensi dan
kompetensi dasar mata pelajaran merupakan tujuan terakhir dari tiga tujuan
pendidikan diatasnya. Tujuan ini bersifat operasional dimana tujuan tersebut
diharapkan dapat tercapai pada saat proses belajar mengajar yang bersifat
langsung. Oleh karena itu, para pendidik memiliki tugas menyusun rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP). Pencapaian tujuan instruksional ini tergantung
kondisi proses pembelajaran yang ada, baik kompetensi pendidik, fasilitas
belajar, peserta didik, metode pembelajaran, lingkungan, dan faktor yang lain.
2. Isi atau Materi
Komponen isi atau materi pembelajaran merupakan materi
yang direncanakan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan
(Nasution, 1989). Isi atau materi yang dimaksud adalah mata pelajaran.
3. Proses Pembelajaran
Proses Pembelajar
adalah komponen kurikulum ini memiliki peranan penting dalam pendidikan. Mutu
proses pembelajar ditentukan oleh kompetensi pendidik (Tafsir, 2010), yaitu
kompetensi pendidik dalam menguasai dan mengaplikasikan teori-teori psikologi,
metode mengajar, dan penggunaan alat pengajaran.
Proses pembelajaran dalam pembahasannya sering terbagi
menjadi dua yaitu strategi pembelajaran dan media pembelajaran (Sukmadinata,
2009). Strategi pembalajaran adalah ca ra yang dimiliki oleh pendidik dalam
proses belajar mengajar. Strategi yang digunakan dalam mengajar, antara lain
reception/exposition learning atau discovery learning, rote learning atau
meaningful learning, dan group learning atau individual learning (Sukmadinata,
2009).
Media pembelajaran adalah segala macam bentuk rangsangan
dan alat yang disediakan pendidik untuk mendorong peserta didik belajar.
Fungsinya sebagai alat bantu untuk memudahkan dalam menyampaikan isi atau
materi kurikulum agar dapat dipahami dengan mudah oleh peserta didik. Kemampuan
pendidik memilih media yang tetap dapat menentukan kelancaran proses proses
pembelajaran.
Media pembelajaran terbagi menjadi lima kelompok, yaitu
interaktif insani, realita, pictorial, simbol tertulis, dan rekaman suara (Sukmadinata,
2009). Pada perkembanganya, keberadaan alat-alat teknologi dan komunikasi
seperti internet, dan smartphone sering menggantikan peran pendidik. Oleh
karena itu, perkembangan tersebut perlu diantisipasi dengan bijak oleh pakar
pendidikan, sehingga dapat membahasa tugas-tugas apa saja yang dapat digantikan
oleh mesin (Tafsir, 2010).
4. Penilaian atau Evaluasi
Evaluasi atau penilaian ditujukan untuk menilai pencapaian
tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dan menilai proses pelaksanaan
pembelajaran secara total. Evaluasi ini terbagi menjadi evaluasi hasil
belajar mengajar yaitu menilai keberhasilan penguasaan peserta didik atau
tujuan-tujuan khusus yang telah ditentukan, dan evaluasi pelaksanaan mengajar
yaitu menilai keseluruhan pelaksanaan pengajaran, yang meliputi evaluasi
komponen tujuan mengajar, bahan mengajar, strategi dan media pengajaran, serta
komponen evaluasi mengajar sendiri (Sukmadinata, 2009).
Senin, 16 Oktober 2017
A.
Pengertian Kurikulum
Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan yang
sangat strategis dalam seluruh aspek kegiatan pendidikan. Mengingat pentingnya
peranan kurikulum di dalam pendidikan dan dalam perkembangan kehidupan manusia,
maka dalam penyusunan kurikulum tidak bisa dilakukan tanpa memahami konsep
dasar dari kurikulum.
Setiap
orang, kelompok masyarakat, atau bahkan ahli pendidikan dapat mempunyai
penafsiran yang berbeda tentang pengertian kurikulum. Berdasarkan studi yang
telah dilakukan oleh banyak ahli, dapat disimpulkan bahwa pengertian kurikulum
dapat ditinjau dari dua sisi yang berbeda, yakni menurut pandangan lama dan
pandangan baru (Oemar Hamalik, 2007).
Selain pengertian diatas berikut juga ada pengertian mengenai kurikulum.
Selain pengertian diatas berikut juga ada pengertian mengenai kurikulum.
·
Pengertian Kurikulum
Berdasarkan Etimologis
Secara etimologis istilah kurikulum yang dalam bahasa Inggris ditulis “curriculum” berasal dari bahasa Yunani yaitu “curir” yang berarti “pelari”, dan “curere” yang berarti “tempat berpacu”. Tidak heran jika dilihat dari arti harfiahnya, istilah kurikulum tersebut pada awalnya digunakan dalam dunia Olah raga, seperti bisa diperhatikan dari arti “pelari dan tempat berpacu”, yang mengingatkan kita pada jenis olah raga Atletik.
Secara etimologis istilah kurikulum yang dalam bahasa Inggris ditulis “curriculum” berasal dari bahasa Yunani yaitu “curir” yang berarti “pelari”, dan “curere” yang berarti “tempat berpacu”. Tidak heran jika dilihat dari arti harfiahnya, istilah kurikulum tersebut pada awalnya digunakan dalam dunia Olah raga, seperti bisa diperhatikan dari arti “pelari dan tempat berpacu”, yang mengingatkan kita pada jenis olah raga Atletik.
·
Pengertian Kurikulum
Berdasarkan Istilah
Berawal dari makna “curir” dan “curere” kurikulum berdasarkan istilah diartikan sebagai “Jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai finish untuk memeroleh medali atau penghargaan”. Pengertian tersebut kemudian diadaptasikan ke dalam dunia pendididikan dan diartikan sebagai “Sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh seorang siswa dari awal hingga akhir program demi memeroleh ijazah”
Berawal dari makna “curir” dan “curere” kurikulum berdasarkan istilah diartikan sebagai “Jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start sampai finish untuk memeroleh medali atau penghargaan”. Pengertian tersebut kemudian diadaptasikan ke dalam dunia pendididikan dan diartikan sebagai “Sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh seorang siswa dari awal hingga akhir program demi memeroleh ijazah”
·
Kurikulum menurut
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003
Menurut UU no. 20 tahun 2003, kurikulum adalah “Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”. (Bab I Pasal 1 ayat 19).
Menurut UU no. 20 tahun 2003, kurikulum adalah “Seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”. (Bab I Pasal 1 ayat 19).
B.
Definisi Kurikulum
1.
Definisi Kurikulum
Menurut Murray Print (1993)
·
Kurikulum Sebagai
Suatu Program Kegiatan Yang Terencana.
Berdasarkan pandangan komprehensif terhadap setiap kegiatan yang direncanakan untuk dialami seluruh siswa, kurikulum berupaya menggabungkan ruang lingkup, rangkaian, interpretasi, keseimbangan subject matter, teknik mengajar, dal lain-lain yang dapat direncanakan sebelumnya (Saylor, Alexander, dan Lewis, 1986).
Berdasarkan pandangan komprehensif terhadap setiap kegiatan yang direncanakan untuk dialami seluruh siswa, kurikulum berupaya menggabungkan ruang lingkup, rangkaian, interpretasi, keseimbangan subject matter, teknik mengajar, dal lain-lain yang dapat direncanakan sebelumnya (Saylor, Alexander, dan Lewis, 1986).
·
sebagai Hasil Belajar
yang Diharapkan
Kajian ini menekankan perubahan cara pandang kurikulum, dari kurikulum sebagai alat (means) menjadi kurikulum sebagai tujuan atau akhir yang akan dicapai (ends).
Kajian ini menekankan perubahan cara pandang kurikulum, dari kurikulum sebagai alat (means) menjadi kurikulum sebagai tujuan atau akhir yang akan dicapai (ends).
·
Kurikulum sebagai
Reproduksi Kultural (Cultural Reproduction)
Pengembangan kurikulum semacam ini dimaksudkan untuk meneruskan nilai-nilai kultural kepada generasi penerus, melalui lembaga penerus.
Pengembangan kurikulum semacam ini dimaksudkan untuk meneruskan nilai-nilai kultural kepada generasi penerus, melalui lembaga penerus.
·
Kurikulum sebagai
Curere
Pandangan yang menekankan pada bentuk kata kerja kuikulum itu sendiri, yaitu curere. Sebagai pengganti interpretasi dari etimologi arena pacu atau lomba (race course) kurikulum, curere merujuk pada jalannya lomba dan menekankan masing-masing kapasitas individu untuk mengkonseptualisasi otobiografinya sendiri.
Masing-masing individu berusaha menemukan pengertian (meaning) ditengah-tengah berbagai peristiwa terakhir yang dialaminya, kemudian bergerak secara historis ke dalam pengalamannya sendiri di masa lampau untuk memulihkan dan membentuk kembali pengalaman semula (to recover and reconstitute the origins), serta membayangkan dan menciptakan berbagai arah yang saling bergantung dengan subdivisi-subdivisi pendidikan lainnya.
Pandangan yang menekankan pada bentuk kata kerja kuikulum itu sendiri, yaitu curere. Sebagai pengganti interpretasi dari etimologi arena pacu atau lomba (race course) kurikulum, curere merujuk pada jalannya lomba dan menekankan masing-masing kapasitas individu untuk mengkonseptualisasi otobiografinya sendiri.
Masing-masing individu berusaha menemukan pengertian (meaning) ditengah-tengah berbagai peristiwa terakhir yang dialaminya, kemudian bergerak secara historis ke dalam pengalamannya sendiri di masa lampau untuk memulihkan dan membentuk kembali pengalaman semula (to recover and reconstitute the origins), serta membayangkan dan menciptakan berbagai arah yang saling bergantung dengan subdivisi-subdivisi pendidikan lainnya.
2.
Definisi Kurikulum
Menurut Beane, etc (1991)
Kurikulum yakni bahwa konsep kurikulum dapat
diklasifikasikan ke dalam empat jenis pengertian yang meliputi:
·
Kurikulum sebagai
produk
Merupakan hasil perencanaan, pengembangan, dan perekayasaan kurikulum.
Merupakan hasil perencanaan, pengembangan, dan perekayasaan kurikulum.
·
Kurikulum sebagai
program
Secara esensial merupakan kurikulum yang berbentuk program-program pembelajaran secara riil.
Secara esensial merupakan kurikulum yang berbentuk program-program pembelajaran secara riil.
·
Kurikulum sebagai
hasil belajar yang ingin dicapai oleh para siswa
Mendeskripsikan kurikulum sebagai pengetahuan, keterampilan, perilaku, sikap dan berbagai bentuk pemahaman thd. mata pelajaran.
Mendeskripsikan kurikulum sebagai pengetahuan, keterampilan, perilaku, sikap dan berbagai bentuk pemahaman thd. mata pelajaran.
·
Kurikulum sebagai
pengalaman belajar
Menempatkan pengalaman belajar sebagai hal yang sangat penting dalam pembelajaran. 3.
Menempatkan pengalaman belajar sebagai hal yang sangat penting dalam pembelajaran. 3.
3.
Definisi Kurikulum
Menurut John Dewey
John Dewey (1902) sudah sejak lama telah menggunakan istilah kurikulum dan hubungannya dengan anak didik. Dewey menegaskan bahwa kurikulum dan anak didik merupakan dua hal yang berbeda tetapi kedua-duanya adalah proses tunggal dalam bidang pendidikan. Kurikulum merupakan suatu rekonstruksi berkelanjutan yang memaparkan pengalaman belajar anak didik melalui suatu susunan pengetahuan yang terorganisir dengan baik yang biasanya disebut kurikulum.
John Dewey (1902) sudah sejak lama telah menggunakan istilah kurikulum dan hubungannya dengan anak didik. Dewey menegaskan bahwa kurikulum dan anak didik merupakan dua hal yang berbeda tetapi kedua-duanya adalah proses tunggal dalam bidang pendidikan. Kurikulum merupakan suatu rekonstruksi berkelanjutan yang memaparkan pengalaman belajar anak didik melalui suatu susunan pengetahuan yang terorganisir dengan baik yang biasanya disebut kurikulum.
4.
Definisi Kurikulum
Menurut Hilda Taba
“A curriculum usually contains a statement of aims and of specific objectives; it indicates some selection and organization of content; it either implies or manifests certain patterns of learning and teaching, whether because the objectives demand them or because the content organization requires them. Finally, it includes a program of evaluation of the outcomes”. Pengertian kurikulum menurut Hilda Taba menekankan pada tujuan suatu statemen, tujuan-tujuan khusus, memilih dan mengorganisir suatu isi, implikasi dalam pola pembelajaran dan adanya evaluasi.
“A curriculum usually contains a statement of aims and of specific objectives; it indicates some selection and organization of content; it either implies or manifests certain patterns of learning and teaching, whether because the objectives demand them or because the content organization requires them. Finally, it includes a program of evaluation of the outcomes”. Pengertian kurikulum menurut Hilda Taba menekankan pada tujuan suatu statemen, tujuan-tujuan khusus, memilih dan mengorganisir suatu isi, implikasi dalam pola pembelajaran dan adanya evaluasi.
5.
Definisi Kurikulum
Menurut Orlosky and Smith
Kurikulum adalah bagian dari program sekolah. Kurikulum berisi apa yang diharapkan pada siswa dalam pembelajaran.
Kurikulum adalah bagian dari program sekolah. Kurikulum berisi apa yang diharapkan pada siswa dalam pembelajaran.
6.
Definisi Kurikulum
Menurut Inlow (1966)
Kurikulum adalah usaha menyeluruh yang dirancang oleh pihak sekolah untuk membimbing murid memperoleh hasil pembelajaran yang sudah ditentukan.
Kurikulum adalah usaha menyeluruh yang dirancang oleh pihak sekolah untuk membimbing murid memperoleh hasil pembelajaran yang sudah ditentukan.
7.
Definisi Kurikulum
Menurut Kerr, J. F (1968)
Kurikulum adalah semua pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan secara individu ataupun secara kelompok, baik di sekolah maupun di luar sekolah.
8. Definisi Kurikulum Menurut Beauchamp (1968)
Kurikulum adalah dokumen tertulis yang mengandung isi mata pelajaran yang diajar kepada peserta didik melalui berbagai mata pelajaran, pilihan disiplin ilmu, rumusan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Kurikulum adalah semua pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan secara individu ataupun secara kelompok, baik di sekolah maupun di luar sekolah.
8. Definisi Kurikulum Menurut Beauchamp (1968)
Kurikulum adalah dokumen tertulis yang mengandung isi mata pelajaran yang diajar kepada peserta didik melalui berbagai mata pelajaran, pilihan disiplin ilmu, rumusan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
C.
Fungsi Kurikulum
Menurut Nurgiantoro (1988 : 45-46), bahwa
kurikulum mempunyai fungsi tiga hal. Pertama, fungsi kurikulum bagi sekolah
terdiri dari alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Kurikulum
juga dapat dijadikan pedoman untuk mengatur kegiatan-kegiatan pendidikan yang
dilaksanakan disekolah. Misalnya, bidang studi, alokasi waktu, pokok bahasan,
serta termasukstrategi pembelajarannya.
Kedua, kurikulum dapat mengontrol dan memelihara keseimbangan proses pendidikan. Dengan mengetahui kurikulum sekolah pada tingkat tertentu, maka kurikulum pada tingkat atasnya dapat mengadakan penyesuaian,sehingga tidak terjadi pengulangan kegiatan pengajaran sebelumnya. Fungsi lain kurikulum juga dapat menyiapkan tenaga pengajar, dengan cara mengetahui kurikulum pada tingkat di bawahnya.
Ketiga, kurikulum dimaksud untuk menyiapkan kebutuhan masyarakat atau lapangan kerja, sehingga kurikulum mencerminkan hal-hal yang menjadi kebutuhan masyarakat. Karena itu lulusan sekolah paling tidak dapat memenuhi kebutuhan lapangan pekerjaan (vokasional) di satu sisi, dan dipersiapkan untuk melanjutkan ke jenjang sekolah berikutnya (akademis) disisi lain.
Kedua, kurikulum dapat mengontrol dan memelihara keseimbangan proses pendidikan. Dengan mengetahui kurikulum sekolah pada tingkat tertentu, maka kurikulum pada tingkat atasnya dapat mengadakan penyesuaian,sehingga tidak terjadi pengulangan kegiatan pengajaran sebelumnya. Fungsi lain kurikulum juga dapat menyiapkan tenaga pengajar, dengan cara mengetahui kurikulum pada tingkat di bawahnya.
Ketiga, kurikulum dimaksud untuk menyiapkan kebutuhan masyarakat atau lapangan kerja, sehingga kurikulum mencerminkan hal-hal yang menjadi kebutuhan masyarakat. Karena itu lulusan sekolah paling tidak dapat memenuhi kebutuhan lapangan pekerjaan (vokasional) di satu sisi, dan dipersiapkan untuk melanjutkan ke jenjang sekolah berikutnya (akademis) disisi lain.
D.
Kurikulum Dalam Perspektif
Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang memiliki kedudukan cukup sentral dalam perkembangan pendidikan, oleh sebab itu dibutuhkan landasan yang kuat dalam pengembangan kurikulum agar pendidikan dapat menghasilkan manusia-manusia yang berkualitas. Adapun yang menjadi landasan dalam pengembangan kurikulum:
Kurikulum merupakan rancangan pendidikan yang memiliki kedudukan cukup sentral dalam perkembangan pendidikan, oleh sebab itu dibutuhkan landasan yang kuat dalam pengembangan kurikulum agar pendidikan dapat menghasilkan manusia-manusia yang berkualitas. Adapun yang menjadi landasan dalam pengembangan kurikulum:
·
Landasan Filosofis: Filsafat
membahas segala permasalahan manusia, termasuk pendidikan, yang disebut
filsafat pendidikan. Filsafat memberikan arah dan metodologi terhadap
praktik-praktik pendidikan, sedangkan praktikpraktik pendidikan memberikan
bahan-bahan bagi pertimbangan filosofis. Keduanya sangat berkaitan erat. Hal
inilah yang menyebabkan landasan filosofis menjadi landasan penting dalam
pengembangan kurikulum.
·
Landasan Psikologis: Dalam
proses pendidikan yang tejadi adalah proses interaksi antar individu. Manusia
berbeda dengan makhluk lainnya karena kondisi psikologisnya. Kondisi psikologis
sebenarnya merupakan karakter psikofisik seseorang sebagai individu yang
dinyatakan dalam berbagai bentuk perilaku interaksi dengan lingkungannya. Dalam
pengembangan kurikulum, minimal ada dua landasan psikologi yang
mempengaruhinya, yaitu psikologi perkembangan dan psikologi belajar.
·
Landasan Sosiologis: Kurikulum
menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Dengan pendidikan diharapkan
muncul masyarakat-masyarakat yang tidak asing dengan masyarakat. Dengan
pendidikan diharapkan lahir manusiamanusia yang bermutu, mengerti, dan mampu
membangun masyarakat.oleh sebab itu tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus
disesuaikan dengan kondisi, karakteristik, kekeyaan dan perkembangan
masyarakat.
E.
Komponen Kurikulum
Salah satu fungsi kurikulum ialah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang pada dasarnya kurikulum memiliki komponen pokok dan komponen penunjang yang saling berkaitan dan berinteraksi satu sama lainnya dalam rangka mencapai tujuan tersebut. Komponen merupakan satu sistem dari berbagai komponen yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya, sebab kalau satu komponen saja tidak ada atau tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Salah satu fungsi kurikulum ialah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan yang pada dasarnya kurikulum memiliki komponen pokok dan komponen penunjang yang saling berkaitan dan berinteraksi satu sama lainnya dalam rangka mencapai tujuan tersebut. Komponen merupakan satu sistem dari berbagai komponen yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya, sebab kalau satu komponen saja tidak ada atau tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Para ahli berbeda pendapat dalam menetapkan
komponen-komponen kurikulum. Ada yang mengemukakan 5 komponen kurikulum dan ada
yang mengemukakan hanya 4 komponen kurikulum.
Untuk mengetahui pendapat para ahli mengenai
komponen kurikulum berikut Subandiyah (1993: 4-6) mengemukakan ada 5 komponen
kurikulum, yaitu:
·
komponen tujuan
·
komponen isi/materi
·
komponen media (sarana
dan prasarana)
·
komponen strategi dan
komponen proses belajar mengajar.
Sementara Soemanto (1982) mengemukakan ada 4
komponen kurikulum, yaitu:
·
Objective (tujuan).
·
Knowledges (isi atau
materi).
·
School learning
experiences (interaksi belajar mengajar di sekolah) dan.
·
Evaluation
(penilaian). Pendapat tersebut diikuti oleh Nasution (1988), Fuaduddin dan
Karya (1992), serta Nana Sudjana (1991: 21). Walaupun istilah komponen yang
dikemukakan berbeda, namun pada intinya sama yakni: (1) Tujuan; (2) Isi dan
struktur kurikulum; (3) Strategi pelaksanaan PBM (Proses Belajar Mengajar),
dan: (4) Evaluasi.
F.
Kaitan Kurikulum Dengan Pembelajaran
Kurikulum dan pembelajaran merupakan dua hal yang tidak terpisahkan, meski berada pada posisi yang berbeda. Saylor menyatakan bahwa kurikulum dan pembelajaran bagaikan Romeo dan Juliet. Artinya, kurikulum tanpa pembelajaran sebagai rencana tidak akan efektif, atau bahkan bias keluar dari tujuan yang telah dirumuskan.
Berikut merupakan gambaran kaitan antara kurikulum dan pembelajaran.
Kurikulum dan pembelajaran merupakan dua hal yang tidak terpisahkan, meski berada pada posisi yang berbeda. Saylor menyatakan bahwa kurikulum dan pembelajaran bagaikan Romeo dan Juliet. Artinya, kurikulum tanpa pembelajaran sebagai rencana tidak akan efektif, atau bahkan bias keluar dari tujuan yang telah dirumuskan.
Berikut merupakan gambaran kaitan antara kurikulum dan pembelajaran.
·
Model dualistis, pada
model ini, kurikulum dan pembelajaran berdiri sendiri. Kurikulum yang
seharusnya memjadi pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran tidak tampak. Begitu
juga dengan pembelajaran yang seharusnya dapat dijadikan tolak ukur pencapaian
tujuan kurikulum tidak terjadi.
·
Model berkaitan, dalam
model ini, kurikulum dengan pembelajaran saling barkaitan. Pada model ini, ada
bagian kurikulum yang menjadi bagian dari pembelajaran, begitu juga sebaliknya.
·
Model konsentris, pada
model ini, keduanya memiliki hubungan dengan kemungkinan bahwa kurikulum adalah
bagian dari pembelajaran atau pembelajaran adalah bagian dari kurikulum.
·
Model siklus, pada
model ini, antara kurikulum dan pembelajaran di anggap dua hal yang terpisah
namun memiliki hubungan timbal balik. Di satu sisi, kurikulum merupakan rencana
tertulis sebagai panduan pelaksanaan pembelajaran, di sisi lain pembelajaran
mempengaruhi pada perancangan kurikulum selanjutnya.
Daftar Pustaka
Ami. 2013. Pengertian Kurikulum Menurut Para Ahli.
http://amiie23new.blogspot.co.id/2013/02/pengertian-kurikulum-menurut-para-ahli.html.
Diakses pada 28 September 2015.
Dewantara, R. 2010. Pengertian dan Definisi Kurikulum.
http://rinosusilodewantara.blogspot.co.id/2010/02/pengertian-dan-definisi-kurikulum-dalam.html.
Diakses pada 28 September 2015.
Hamalik, Oemar. 2007. Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nasution, S (2006). Azas-Azas Kurikulum. Jakarta: Bumi Aksara.
Salahudin Al Ayubi.
2011. Pengertian Kurikulum Menurut Beane dkk.
http://oranggenah92.blogspot.co.id/2011/11/pengertian-kurikulum-menurut-bean-dkk.html.
Diakses pada 28 September 2015.
Simanjuntak, Juliper. ____. Pengertian, Peranan, dan Fungsi
Kurikulum. Makalah.
Subandijah, 1993. Pengembangan Dan Inovasi Kurikulum. PT Raja
Grafindo Persada. Jakarta.
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Dra.%20Sumarsih,%20M.Pd./Materi%20Kakubuteks%20Akuntansi.pdf
http://wisnucorner.blogs.uny.ac.id/2015/09/28/resume-konsep-kurikulum/
Langganan:
Komentar (Atom)
A. EVALUASI PELAKSANAAN KURIKULUM 2013